Okesi.id, SAMARINDA, KALTIM – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus memacu status kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat menjadi Taman Bumi Nasional (geopark), menyusul penetapan resmi wilayah karst terluas di Kalimantan sebagai Warisan Geologi Nasional. Kawasan ini membentang dari Kabupaten Berau hingga Kutai Timur dengan luas hampir 1,9 juta hektare, yang mencakup puluhan gua bersejarah termasuk gua-gua dengan jejak manusia purba.
Gubernur Kalimantan Timur menegaskan bahwa pengakuan sebagai taman bumi akan memberikan momentum penting bagi konservasi sekaligus meningkatkan potensi pariwisata, ekonomi lokal, dan penelitian ilmiah.
Kawasan karst ini dikenal memiliki g12–30 gua bernilai sejarah, yang sebagian besar menyimpan gambar dan lukisan manusia purba yang diperkirakan berusia puluhan ribu tahun. Jejak-jejak ini menunjukkan kehidupan manusia sejak ribuan tahun lalu, termasuk gambaran telapak tangan, figur hewan, dan ekspresi simbolik lainnya.
Lukisan-lukisan dan artefak yang ditemukan dalam gua seperti Gua Beloyot menegaskan pentingnya kawasan ini sebagai situs prasejarah dan unsur budaya yang tak ternilai.
Selain kekayaan sejarah, kawasan ini juga dinilai punya potensi besar sebagai destinasi wisata alam berkelas dunia. Pemerintah daerah bersama masyarakat lokal tengah mengidentifikasi sejumlah objek wisata berbasis alam dan budaya seperti gua, danau alami, dan puncak karst yang spektakuler.
Upaya ini melibatkan pengembangan rencana dan survei untuk memasukkan titik-titik strategis ke dalam rencana geopark, meskipun masih memerlukan pengembangan lebih mendalam sebelum diusulkan ke pengakuan nasional maupun internasional.
Meski dihargai secara ilmiah, situs-situs gua prasejarah di Karst Sangkulirang-Mangkalihat belum sepenuhnya bebas dari ancaman. Beberapa laporan mengatakan gua-gua purba, termasuk yang menyimpan ratusan hingga ribuan gambaran purba, berada di bawah tekanan dari aktivitas industri seperti pertambangan dan pabrik semen yang potensial merusak struktur geologi dan lukisan dinding gua.
Ancaman ini juga menjadi perhatian kalangan arkeolog dan pejabat kebudayaan nasional, yang khawatir akan kelestarian warisan manusia purba yang unik tersebut.
Peneliti, pemerintah daerah, dan lembaga konservasi terus bekerja bersama masyarakat adat untuk mengelola dan menjaga gua-gua bersejarah di kawasan karst. Pendampingan dan penyuluhan dilakukan untuk menguatkan pemahaman masyarakat lokal terhadap nilai budaya dan pentingnya pelestarian warisan ini, terutama sebagai bagian dari identitas budaya dan daya tarik wisata berkelanjutan.
Gua-gua di kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat tidak hanya menyimpan warisan sejarah prasejarah bertaraf global, tetapi juga menjadi fokus strategis pelestarian alam, budaya, serta pengembangan pariwisata berkelanjutan di Kalimantan Timur. Upaya untuk menjadikannya Taman Bumi Nasional dan bahkan masuk jaringan UNESCO Geopark terus berjalan, meskipun tantangan terhadap kelestarian tetap harus diantisipasi. (*)
Dirangkum dari berbagai sumber


Tinggalkan Balasan