Okesi.id, KUTAI TIMUR–BERAU, KALTIMANTAN TIMUR – Kawasan Karst Sangkulirang–Mangkalihat kembali menjadi sorotan setelah pemerintah dan sejumlah lembaga konservasi mendorong pengakuan geopark nasional untuk kawasan ini, yang terdiri dari ratusan goa prasejarah berusia puluhan ribu tahun serta bentang alam karst terluas di Kalimantan.
Karst Sangkulirang–Mangkalihat membentang seluas sekitar 1,8 juta hektare dari Kabupaten Berau hingga Kabupaten Kutai Timur, menjadi rumah bagi sekitar 30 goa bernilai sejarah dengan lukisan telapak tangan manusia purba yang diperkirakan berusia lebih dari 40.000 tahun, salah satu yang tertua di dunia. Lukisan-lukisan tersebut menjadi bukti jejak peradaban manusia prasejarah di Pulau Borneo.
Hasil penelitian arkeologi yang melibatkan tim Indonesia–Australia sebelumnya telah mengungkap gambar arca dan artefak yang menyiratkan kehidupan manusia purba di wilayah ini, menjadikan kawasan karst sebagai salah satu situs paling berharga di Nusantara.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) sejak 2019 aktif mengusulkan Karst Sangkulirang–Mangkalihat sebagai Taman Bumi Nasional dan calon anggota UNESCO Global Geopark.
Pada 2024, Kementerian ESDM menetapkan 26 situs warisan geologi di kawasan karst ini sebagai geosite, dengan 15 di Berau dan 11 di Kutai Timur, sebagai langkah penting menuju pengakuan geopark.
Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, mengatakan penetapan geopark akan membawa pengakuan budaya, konservasi alam, dan peluang ekonomi melalui pariwisata bagi masyarakat lokal. “Ini akan mendatangkan Pendapatan Asli Daerah dan mendorong penelitian ilmiah,” ujarnya terkait proses geopark.
Sebagai calon geopark, kawasan ini memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata edukasi alam dan budaya. Goa-goa seperti Goa Beloyot, Goa Blonyot, dan lain-lain menawarkan pesona alam sekaligus nilai sejarah manusia prasejarah yang tinggi, menarik minat wisatawan dan peneliti dari dalam dan luar negeri.
Penelitian ilmiah juga mencatat bahwa beberapa lukisan gua di kawasan ini berumur antara 40.000–51.800 tahun, menjadikannya sebagai salah satu rock art tertua di Asia Tenggara, sehingga potensi geopark internasional semakin kuat.
Meskipun potensi besar itu, kawasan Karst Sangkulirang–Mangkalihat menghadapi ancaman dari aktivitas pertambangan dan eksploitasi sumber daya alam, yang berisiko merusak goa-goa dan lukisan purba di dalamnya. Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa beberapa gua prasejarah di Kalimantan terancam oleh aktivitas tambang di sekitar lokasi, mengingat nilai sejarah yang dimilikinya.
Para konservasionis menilai kawasan ini perlu dilindungi secara ketat bukan hanya karena memiliki nilai geologi, tetapi juga nilai budaya dan sejarah yang tinggi. Pengakuan geopark diyakini akan membantu memperkuat mekanisme perlindungan kawasan
Dengan proses pengusulan geopark yang semakin matang dan dukungan dari pemerintah daerah serta komunitas lokal, Karst Sangkulirang–Mangkalihat bukan sekadar bentang alam, tetapi juga lab sejarah kehidupan manusia dan keanekaragaman hayati yang unik di Kalimantan Timur.
Kawasan Karst Sangkulirang–Mangkalihat merupakan warisan alam dan budaya yang sangat berharga, memadukan sejarah purba dalam gua-gua karst dengan keindahan alam tropis yang khas. Upaya menuju pengakuan sebagai Taman Bumi Nasional dan calon UNESCO Global Geopark semakin menunjukkan bahwa potensi kawasan ini dapat menjadi ikon pariwisata dan perlindungan warisan budaya Indonesia. (*)
Dirangkum dari Berbagai Sumber


Tinggalkan Balasan